bienvenue dans mon monde

Life is very short, and you have to know how to live it.

harta yg suami perjuangkan adalah yang terbaik

Kisah Nyata:

Pengorbanan Seorang Suami Selasa malam (1 Februari 2005),
Setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor di sekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok.

Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung.

Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam. Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.

Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, “Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah isteri dan anak saya?”

Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya. Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk. “Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya. an Alhamdulillah, saya justeru mendapatkan teh manis hangat dari tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut.”Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.

Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat.

“Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya” sesaat kemudian bu tersebut membuka percakapan.

“Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana?” tanya saya.

“Saya tinggal di daerah Bintaro tapi…(dia menghentikan bicaranya), Bapak pulang bekerja ?” dia balas bertanya.

“Ya” jawab saya singkat.

“Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak menunggu?” tanyanya lagi.

Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.

“Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.”

Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau saya salah omong.”

“Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan?” pintanya dengan sedih dan sopan. Airmatanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.

Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat- cepat saya lepaskan.

“ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya.

“Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak aya” kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang membuat saya heran.

Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya?

Tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus meng-ikhlas- kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun. Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang.

Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala.

Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi.

Mungkin sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada aya.

Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya. Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui.

Udara benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah saya baru sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi.

Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. “Gila.Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua didalamnya” dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya.

Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar meng-ikhlaskan semuanya. “Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya biar bisa lebih ikhlas” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.

Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil padahal hal ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat mengatasi kemacetan.

Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan karena kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi malam.

Saya belum benar-benar meng- ikhlaskan kejadian tadi malam bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati karena telah menipu saya. Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus.

“Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan?” tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala.. Segera saya buka kotak tersebut dan

“Ya Allah, semua milik saya kembali. jaket, raincoat, handphone,kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya terkejut adalah uang yang ikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar k ertas yang tertulis ;

“Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah saya berjalan- jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di hate bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. Terima kasih.”

Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada di hadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua uangnya diserahkan saja ke mesjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut.

Hikmah : Harta yg suami perjuangkan adalah yang terbaik…. Dalam hadist Saad bin Malik diceritakan bahwa Nabi bersabda :

“Sesungguhnya, meskipun engkau memberikan nafkah kepada keluargamu sendiri, engkau tetap memperoleh pahala, sampai sekerat makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari III : 164 dan Muslim 1628. dari Abu Hurairah juga diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau berikan epada fakir miskin, dan satu dinar yang engkau berikan sebagai nafkah keluargamu; yang terbaik diantaranya adalah yang engkau berikan sebagai nafkah istrimu.” (HR. Muslim II :692)

By Anonymous

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan…

Tapi ingatlah… melepaskan BUKAN akhir dari dunia,
melainkan awal suatu kehidupan baru…

 
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
mereka yang tersakiti,
mereka yang telah mencari,
dan mereka yang telah mencoba…

Karena MEREKA-lah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

 
CINTA yang AGUNG adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya.

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata :
“Aku turut berbahagia untukmu”
 

Apabila cinta tidak berhasil, BEBASKAN dirimu!

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI!

Ingatlah, bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.

Tapi ketika cinta itu mati, kamu TIDAK perlu mati bersamanya.
 

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang,
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.

Entah bagaimana,
dalam perjalanan kehidupan,
kamu belajar tentang dirimu sendiri…
dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada.
 
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kau buat.
 

TEMAN SEJATI, mengerti ketika kamu berkata “Aku lupa…”;

Menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘Tunggu sebentar”;

Tetap tinggal ketika kamu berkata ‘Tinggalkan aku sendiri”;

Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata “Bolehkah saya masuk?”
 

MENCINTAI, BUKAN-lah bagaimana kamu melupakan,
melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN.

BUKAN-lah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu MENGERTI.

BUKAN-lah apa yang kamu lihat,
melainkan apa yang kamu RASAKAN.

BUKAN-lah bagaimana kamu melepaskan,
melainkan bagaimana kamu BERTAHAN.


Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati,
dibandingkan menangis tersedu-sedu.

Air mata yang keluar dapat dihapus,
sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.
 

Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang.

Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah,
kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang…
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri.
 

Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia.

Jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar-benar mencintai.

Melainkan, BERJUANGLAH demi cintamu…

Itulah CINTA SEJATI.
 

Namun akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang

BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita,
melainkan karena kita menyadari,
bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.


Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’

Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai DARIPADA orang yang berada di sekelilingmu

Lebih baik menunggu orang yang tepat,
karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya dengan ‘seseorang’.
 

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu.

Dan kadang kala, teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari…


-dari sebuah pesan berantai-

Catatan Usang Saat Pagi Menjelang

Ya, aku pernah meragukan semuanya
Pada suatu waktu terabaikan, tercampakkan, dan terbuang dalam detikmu
Tertatih ketika diharuskan untuk kembali tegak berdiri

Aku belajar untuk mencintaimu dalam hening
Berbicara dalam hening
Berpikir dalam hening
Bertindak dalam hening
Hening, jauh dari kusut masai keseharian

Ya, kau adalah sosok yang paling berliku
Sesaat kau mengangkatku ke langit ketujuh
Saat yang sama pula kau hempaskan ke lautan tak bertepi

Pun aku berharap kau belajar untuk mencintaiku dalam hening
Berbicara dalam hening
Berpikir dalam hening
Bertindak dalam hening
Hening, jauh dari hiruk pikuk keseharian

Mungkin terlalu frontal, entah, karena dalam hening inilah aku menemukan arti kata “separuh jiwa” itu memang benar adanya melekat padamu

Set Fire To The Rain
-Adele-

I let it fall, my heart
And as it fell, you rose to claim it
It was dark and I was over
Until you kissed my lips and you saved me

My hands, they’re strong
But my knees were far too weak
To stand in your arms
Without falling to your feet

But there’s a side to you that I never knew, never knew
All the things you’d say, they were never true, never true
And the games you play, you would always win, always win

But I set fire to the rain
Watched it pour as I touched your face
Let it burn while I cry
‘Cause I heard it screaming out your name, your name

When laying with you
I could stay there, close my eyes
Feel you here, forever
You and me together, nothing is better

‘Cause there’s a side to you that I never knew, never knew
All the things you’d say, they were never true, never true
And the games you’d play, you would always win, always win

But I set fire to the rain
Watched it pour as I touched your face
Let it burn while I cried
‘Cause I heard it screaming out your name, your name

I set fire to the rain
And I threw us into the flames
Where I felt somethin’ die, ‘cause I knew that
That was the last time, the last time

Sometimes I wake up by the door
Now that you’ve gone, must be waiting for you
Even now when it’s already over
I can’t help myself from looking for you

I set fire to the rain
Watched it pour as I touched your face
Let it burn while I cried
‘Cause I heard it screaming out your name, your name

I set fire to the rain
And I threw us into the flames
Where I felt somethin’ die
‘Cause I knew that that was the last time, the last time, oh

Oh, no
Let it burn, oh
Let it burn
Let it burn

Set Fire To The Rain
-Adele-

I let it fall, my heart
And as it fell, you rose to claim it
It was dark and I was over
Until you kissed my lips and you saved me

My hands, they’re strong
But my knees were far too weak
To stand in your arms
Without falling to your feet

But there’s a side to you that I never knew, never knew
All the things you’d say, they were never true, never true
And the games you play, you would always win, always win

But I set fire to the rain
Watched it pour as I touched your face
Let it burn while I cry
‘Cause I heard it screaming out your name, your name

When laying with you
I could stay there, close my eyes
Feel you here, forever
You and me together, nothing is better

‘Cause there’s a side to you that I never knew, never knew
All the things you’d say, they were never true, never true
And the games you’d play, you would always win, always win

But I set fire to the rain
Watched it pour as I touched your face
Let it burn while I cried
‘Cause I heard it screaming out your name, your name

I set fire to the rain
And I threw us into the flames
Where I felt somethin’ die, ‘cause I knew that
That was the last time, the last time

Sometimes I wake up by the door
Now that you’ve gone, must be waiting for you
Even now when it’s already over
I can’t help myself from looking for you

I set fire to the rain
Watched it pour as I touched your face
Let it burn while I cried
‘Cause I heard it screaming out your name, your name

I set fire to the rain
And I threw us into the flames
Where I felt somethin’ die
‘Cause I knew that that was the last time, the last time, oh

Oh, no
Let it burn, oh
Let it burn
Let it burn

Sebelum anda menilang, pastikan dulu anda bisa MENGATUR LALU LINTAS DENGAN BAIK DAN BENAR!

1. Polisi SEHARUSNYA BUKAN TUKANG TILANG! Mengapa saya sebut dengan kata TUKANG? Anda tau Tukang Parkir? Tak jauh berbeda. Sama2 narik retribusi.

2. Bapak tau perempatan grogol dekat season city? Tk jauh dari sana 300m ada kantor polisi. Di perempatan tersebut SELALU terjadi pelanggaran. Salah arah, main putar balik, melintang diperempatan. Ada berapa polisi disana? NOL BESAR. Polisi menunggu 10 m dekat perempatan hanya untuk menilang. Mengatur lalu lintas? OMONG KOSONG!!!!!

3. Perempatan Jembatan Dua dan Jembatan Tiga.
Perempatan Roxy, semuanya sama spt. nomer 2

Saya harap anda polisi jujur pak. raihlah pangkat setinggi mungkin hanya untuk 1 tujuan. bukan harta benda namun untuk menegakkan aturan lalu lintas. Berlaku keraslah pada bawahan anda dan tegaskan KEWAJIBAN UTAMA POLATAS=MENGATUR LALU LINTAS!!!

Jika kewajiban utama saja tidak bisa dilakukan, anda sama sekali tidak berhak menilang. Kepercayaan saya sama polantas? MINUS 100!

http://www.blogger.com/profile/16778719497020930647

—blogger ID : Jaka Timur at Dec 11, 2011 12:04 AM

Mengenai ku-TILANG

Pada suatu hari, saya dapet email dari sebuah milis kumpulan para jurnalis se-Indonesia yang cukup bikin terhenyak. Isinya begini :

MINTA SLIP BIRU SAAT DITILANG -Jangan Mau Damai di Tempat !

Polisi (P) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK ?
Sopir (S) : Baik Pak.
P : Mas tau kesalahannya apa ?
S : Gak Pak.
P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yang memang gak standar) sambil langsung mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang, lalu menulis dengan sigap.
S : Pak jangan ditilang deh. Wong plat aslinya udah gak tau ilang kemana. Kalo ada pasti saya pasang.
P : Sudah saya tilang saja. Kamu tau gak banyak mobil curian sekarang ? (dengan nada keras !!)
S : (Dengan nada keras juga) Kok gitu ! Taksi saya kan ada STNKnya Pak. Ini kan bukan mobil curian !
P : Kamu itu kalo dibilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas). Kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH).
S : Maaf, Pak saya gak mau yang warna MERAH suratnya. Saya mau yang warna BIRU aja.
P : Hey ! (dengan nada tinggi), kamu tahu gak sudah 10 hari ini form biru itu gak berlaku !
S : Sejak kapan Pak form BIRU surat tilang gak berlaku ?
P : Ini kan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU. Dulu kamu bisa minta form BIRU, tapi sekarang ini kamu gak bisa. Kalo kamu gak mau, ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot)
S : Baik Pak, kita ke komandan Bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi)

Dalam hati saya, berani betul sopir taksi ini.
P : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas ?
S : Siapa yang melawan ? Saya kan cuman minta form BIRU. Bapak kan yang gak mau ngasih
P : Kamu jangan macam-macam yah. Saya bisa kenakan pasal melawan petugas !
S : Saya gak melawan ? Kenapa Bapak bilang form BIRU udah gak berlaku? Gini aja Pak, saya foto bapak aja deh. Kan bapak yang bilang form BIRU gak berlaku (sambil ngambil HP)

Wah … wah …. hebat betul nih sopir ! Berani, cerdas dan trendy. Terbukti dia mengeluarkan HPnya yang ada kamera.
P : Hey ! Kamu bukan wartawan kan ? Kalo kamu foto saya, saya bisa kandangin (sambil berlalu).

Kemudian si sopir taksi itu pun mengejar polisi itu dan sudah siap melepaskan shoot pertama (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi).
P 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas seperti itu.
S : Si Bapak itu yang bilang form BIRU gak bisa dikasih (sambil tunjuk polisi yang menilangnya) .

Lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi. Ada pembicaraan singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang. Akhirnya polisi yang menghalau tadi menghampiri si sopir taksi.
P 2 : Mas, mana surat tilang yang merahnya? (sambil meminta)
S : Gak sama saya Pak. Masih sama temen Bapak tuh (polisi ke 2 memanggil polisi yang menilang)
P : Sini, tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal)

Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp.30.600,- sambil berkata : Nih kamu bayar sekarang ke BRI ! Lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini. Saya tunggu.
S : (Yes !!) OK Pak ! Gitu dong, kalo gini dari tadi kan enak.

Kemudian si sopir taksi segera menjalankan kembali taksinya sambil berkata pada saya, : Pak, maaf kita ke ATM sebentar ya . Mau transfer uang tilang. Saya berkata : “Ya, silakan.”

Sopir taksi itupun langsung ke ATM sambil berkata, “Hatiku senang banget Pak, walaupun ditilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu. Untung saya paham macam-macam surat tilang.

Tambahnya, : “Pak kalo ditilang kita berhak minta form biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang. Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI! Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum.

Dari obrolan dengan sopir taksi tsb dapat saya infokan ke Anda sebagai berikut :

SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat. Itu pun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai nilai tilang. Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat. Disini pun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang.

SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah no. rek Bank BUMN).

Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk ditukar dengan SIM/STNK kita di Kapolsek terdekat di mana kita ditilang. You know what ? Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi 50 ribu ! Dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA.

Kenapa email di atas bikin saya terhenyak?
Karena kasus tilang-tilangan itu sering jadi jebakan betmen dari polisi, apalagi kalo tanggal tua. Dan sebelnya, kalo saya adalah salah satu dari yang lewat daerah operasi jebra, sapi, kuda atau apa pun. Saya sendiri beberapa kali lewat operasi dan lolos, beberapa karena punya sim, dan dua kali dilepas begitu saja (entah kenapa, mungkin karna saya manis :)). Sialnya waktu jaman kuliah, pernah satu kali berurusan dan harus digiring ke polsek karena mau beli makan siang, dipikir-pikir karena hafal jalan tikus, cuma sebentar dan cuma satu kali lewat jalan besar, itupun numpang nyebrang doang. Ya itu dia, sialnya saat nyebrang ada seekor polisi sedang melintas. Karena ga pernah berurusan sama hukum sebelumnya, hasilnya lobi-lobi saya untuk memilih jalan damai ga bisa (karena konon kabarnya itu jalan paling murah kalo berurusan sama polisi). Kriinngg, akhirnya saya menelpon teman, karena ga bawa uang banyak juga untuk bayar denda sebesar sekian ratus ribu untuk pelanggaran : ga pake helm, no stnk, dan no sim. Bukan ga punya, tapi sengaja ga bawa karena dipikir sebentar dan sebelumnya aman-aman aja lewat jalan itu. Mungkin kalo saya anak orang kaya bakalan ngomong “Saya hubungi pengacara saya dulu” :p. Akhirnya, sang teman itulah yang urus-urus masalah ketebelece dan lobi-lobi.

Saat itu, saya ga memperhatikan masalah warna slip atau besaran denda dan kawan-kawannya. Sampai saya mendapat email tersebut di atas. Nah, saya terhenyak ternyata polisi sampe segitu nakalnya sampe ngakalin yang namanya slip tilang? Oke, berarti saya harus bener-bener melek hukum perlalulintasan nih..

Dari email terbut, penasaranlah saya, apa sih tilang itu sebenernya? Nah, pertanyaan itu saya sampaikan kepada “om gugel, andalan kita bersama”. The result..saya tergiring untuk meng-klik satu blog yang nampaknya milik seorang polisi yang nampaknya “a good cop”. Begini isi salah satu post-nya :

TILANG

Apa yang paling dibenci oleh masyarakat kepada Polisi?

“Saat ditilang pak!”

Ya! Masih banyak masyarakat Indonesia yang menjawab demikian.
Oleh karena itu pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menulis kembali topik tentang tilang agar tidak salah kaprah apabila rekan-rekan ditilang oleh Polisi lalu lintas.

 Apakah itu TILANG?

Tilang adalah Bukti Pelanggaran. Fungsi TILANG itu sendiri adalah sebagai UNDANGAN kepada pelanggar lalu lintas untuk MENGHADIRI SIDANG di pengadilan negeri, serta sebagai TANDA BUKTI PENYITAAN atas barang yang disita oleh Polantas dari Pelanggar.

Apa saja yang boleh disita oleh Polantas?

Barang bukti yang boleh disita oleh Polantas adalah SIM, STNK, STCK, dan kendaraan bermotor.

Selain 4 jenis barang bukti tersebut, Polantas dilarang menyita. Misalnya rekan-rekan tertangkap tidak membawa STNK, dan tidak memiliki SIM, maka Polantas akan menyita kendaraan rekan-rekan. Jangan rekan-rekan merayu Polantas untuk menyita KTP atau mungkin memberi jaminan HP ke pak Polantas, itu salah besar.

Bagaimana proses tilang itu sendiri bekerja?

Saya coba jelaskan proses yang terjadi di Unit Lantas Polsek yah rekan-rekan..

1. Tilang diambil oleh Bintara Tilang Polsek dari Satuan Lalu lintas Polrestabes Surabaya

2. Masing-masing buku Tilang di cek kelengkapannya.Satu buku tilang berisi 5 buah tilang. 1 buah tilang terdiri dari 5 lembar warna.

 Warna MERAH untuk pelangggar
 Warna BIRU juga untuk pelanggar
Warna HIJAU untuk Pengadilan
Warna KUNING untuk arsip Polisi
Warna PUTIH untuk Kejaksaan.

3. Setelah diperiksa, buku Tilang diberi stempel KESATUAN untuk menunjukkan Tilang tersebut digunakan oleh Kesatuan mana, serta stempel Staff untuk menandakan bahwa Tilang tersebut sah diketahui oleh Kapolsek.
Jadi apabila rekan-rekan ditilang, perhatikanlah stempel pada pojok kanan atas tilang tersebut untuk mengetahui Polisi Satuan mana yang telah menilang rekan-rekan. Hal ini berguna juga untuk menyelesaikan tilang dengan alternatif III yaitu titip denda. Sering terjadi kesalahpahaman pelanggar dimana dia ditilang oleh polsek lain atau anggota satlantas Polrestabes, namun datangnya ke Polsek Wonokromo.

4. Tilang digunakan dalam proses Razia


Apa yang harus saya lakukan saat kena tilang?

a. Pertama rekan-rekan harus tenang, jangan panik. Atur nafas, yakinlah bahwa tilang adalah bentuk TIPIRING atau Tindak Pidana Ringan, dimana umumnya sanksi yang dikenakan adalah DENDA, bukan PENJARA, jadi santai aja.

b. Parkir kendaraan di tempat yang aman, kunci stang bagi kendaran roda  dua. Kalau saat razia banyak pelanggar yang terjaring, tangan jahil bisa saja terjadi karena petugas polisi saat itu konsentrasi memeriksa kendaraan dan pengendara, jadi amankan kendaraan sendiri dulu.

c. Pastikan petugasnya membawa buku tilang. Langkah ini dibutuhkan untuk mengenali BAD COP. Polisi nakal seringkali tidak membawa buku tilang, hanya menakut2i pelanggar akan sidang, lalu mengajak damai.

d. Kalau sudah yakin yang menilang adalah Polantas yang baik tidak ada niat untuk melakukan pungli, rekan-rekan wajib mengetahui alternatif penyelesaian Tilang.

ALTERNATIF I

Pelanggar mengakui pelanggaran yang telah dilakukan, dan akan menyelesaikan perkara Tilang di PENGADILAN. Alternatif ini pelanggar akan menerima lembar warna MERAH

ALTERNATIF II

Pelanggar mengakui pelanggaran yang telah dilakukan, dan akan menyelesaikan denda Tilang di bank BRI. Alternatif ini, petugas akan menulis denda tertinggi yang dikenakan oleh UU pada lembar tilang, sehingga alternatif ini sekarang jarang diminta pelanggar karena untuk pasal SIM saja dikenakan denda sebesar 1 juta rupiah.  Namun apabila rekan-rekan memang memiliki uang yang cukup, silahkan minta alternatif II, dan rekan-rekan akan menerima lembar berwarna BIRU. Datang ke bank BRI dengan membayar denda MAKSIMAL disana, lalu bawa tanda bukti pembayaran ke satuan yang menilang.

ALTERNATIF III

Pelanggar mengakui pelangggaran yang telah dilakukan, dan akan menitipkan denda kepada petugas Polri. Alternatif ini ditujukan bagi pelanggar dari luar kota yang tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan sidang di Pengadilan maupun di bank BRI. Alternatif ini sering memicu terjadinya pungli. Jadi kalaupun rekan-rekan memilih alternatif ini, pastikan petugasnya menulis identitas rekan-rekan di lembar tilang, jangan sampai uang rekan-rekan diambil, namun lembar tilang tidak ditulis. Alternatif ini rekan-rekan tidak akan menerima lembar tilang, karena saat itu juga barang bukti langsung dikembalikan. 
Namun, alternatif ini sering dijadikan bahan oleh media/LSM untuk menjatuhkan Polantas dengan mengambil gambar saat pelanggar menyerahkan/menitipkan uang kepada petugas. Untuk menghindari masalah tersebut, walau pelanggar memilih Alternatif III, penukaran barang bukti yang disita dengan uang titipan sidang harus dilakukan di kantor, sehingga tidak ada kesan paksaan petugas kepada pelanggar. Pelanggar bebas memilih apakah dia nitip denda kepada petugas Polri, atau kembali kepada Alternatif I.

ALTERNATIF IV

Pelanggar tidak mengakui pelanggaran yang ditujukan kepadanya, dan pelanggar tidak mau tanda tangan. Penyelesaian alternatif IV ini akan diselesaikan di pengadilan dengan mempertemukan petugas yang menilang dengan pelanggar yang merasa tidak bersalah. Penyelesaian alternatif ini, pelanggar akan menerima dua lembar sekaligus, yaitu MERAH dan BIRU. (bagi petugas Polantas, mohon camkan baik-baik, jangan pernah memaksa pelanggar untuk tanda tangan, pelanggar tidak wajib menandatangani lembar tilang, apabila dia ingin mengajukan banding di pengadilan)

5. Tilang yang digunakan oleh Polantas Opsnal dikembalikan kepada Bintara Tilang di Polsek untuk dikompulir, dan disetor dalam jangka waktu kurang lebih 1 minggu.

6. Penyelesaian Alternatif III, pelanggar dapat datang ke satuan yang menilang, selama lembar Tilang dan Barang Bukti yang disita masih berada disana. Yang berlangsung di Polsek Wonokromo adalah:

a. Mulai tanggal tilang sampai dengan H-4 tanggal sidang, BB dan Tilangg masih di Polsek, pelanggar dapat menitipkan denda di Polsek. Besar denda yang diterapkan sama dengan yang diterapkan di Pengadilan.

b. Mulai H-3 sampai dengan h-1 tanggal sidang, BB dan Tilang sudah diserahkan ke satuan lebih atas, yaitu Satlantas Polrestabes Surabaya. Jadi bagi pelanggar yang mau nitip denda, datangnya ke Satlantas Polrestabes Surabaya bagian Tilang di Colombo.

c. Hari H atau tepat tanggal sidang, lembar tilang dan BB berada di Pengadilan, dan pelanggar menyelesaikan dendanya di pengadilan.

d. Apabila sampai hari H, rekan-rekan tidak punya waktu menyelesaikan Tilang, tidak masalah… Santai saja. Namun tilang dan BB sudah berpindah ke Kejaksaan. Jadi rekan-rekan menyelesaikannya disana.

6. Tilang dikembalikan ke Sat Lantas Polrestabes lengkap dengan barang bukti atau uang titipan denda dari pelanggar.

  
Bagaimana saya tahu kapan saya ketemu GOOD COP, kapan saya bertemu BAD COP?

Gampang! Saat polisi menulis identitas rekan-rekan di  lembar tilang, saat itulah penindakan telah dilaksanakan dengan benar. Mengapa demikian? Satu lembar tilang itu ada nomor seri nya, ‘gak bakal lari kemana-mana. Satu lembar tilang hilang, maka yang bertanggung jawab adalah Kanit Lantas dan Kapolseknya.

 Ah! Saya tetap tidak percaya kalau nitip denda kepada polisi, nanti juga masuk ke kantongnya.

Ya sudah, ambil saja lembar merahnya, datanglah ke pengadilan pada tanggal yang ditetapkan oleh petugas. (Alternatif I)

Kenapa sih harus ada razia?!

Razia lalu lintas itu tujuannya mulia loh rekan-rekan.
“Setiap kecelakaan lalu lintas, PASTI diawali oleh suatu pelanggaran!”

Naaaah… Untuk mengurangi terjadinya kecelakaan lalu lintas, maka polisi melakukan razia. Razia akan menyaring mana pengendara tertib, dan mana yang tidak tertib.

Apakah rekan-rekan mau berkendara di jalan bersama-sama dengan pengendara liar yang tidak memiliki SIM? Rekan-rekan setengah mati mendapatkan SIM, tapi orang yang tidak punya SIM bebas berkeliaran di jalan umum.

Tapi pak… Saya kan PELAJAR… (merengek mode ON)

Di jalan, polantas tidak membedakan status pekerjaan, semuanya SAMA!
Polisi hanya mengenal Pengedara yang TERTIB, dan pengendara yang TIDAK TERTIB.

Apakah penyelesaian tilang dapat diwakilkan?
Bisa! Penyelesaian Tilang tidak harus rekan-rekan sendiri yang hadir, apabila sangat sibuk bisa dititipkan kepada keluarga, sahabat, atau rekan untuk menyelesaikannya.

Tilang saya hilang!!! Bagaimana pak?!
Gampang… Lapor ke polsek terdekat, buat surat kehilangan dengan menyebutkan tanggal penilangan, barang bukti yang disita, serta identitas dari BB yang disita tersebut, misalnya yang disita adalah SIM, maka dalam laporan disebutkan nama pemilik SIM, kalau yang disita kendaraan, maka disebutkan nomor polisi, merk, tipe, dan tahun kendaraan. Bawalah surat kehilangan tersebut ke satuan yang telah menilang rekan-rekan sebagai ganti lembar tilang.

Koq jadi dibuat susah gini ‘to pak?
Kalau tidak  mau susah, ya jangan melanggar dong… :-)

Setelah mengetahui Tilang itu apa, dan bagaimana cara penyelesaiannya, saya selaku penulis mengajak rekan-rekan untuk:

1. Lebih santai dalam menghadapi proses penyelesaian tilang, tidak perlu lapor bapaknya yang pejabat ini, pejabat itu, anggota partai ini-itu, dsb. Masak persoalan mudah seperti ini masih harus minta bantuan?

2. Lebih waspada apabila berhadapan dengan Bad Cop. Langkah terbaik apabila rekan-rekan langsung dimintai uang adalah langsung berkata, “Saya minta ditilang saja pak.. Kebetulan saya lagi tidak bawa uang..” Hal ini akan menekan populasi bad cop di jalan.

3. Kurangilah niat untuk mengucapkan “Damai saja pak..” Karena pungli terjadi saat bertemunya niat polisi dengan kesempatan yang diberikan oleh pelanggar itu sendiri.
Hati-hati rekan-rekan, apabila ketemu polisi yang suangat saklek, saat rekan-rekan menyodori uang, bisa-bisa rekan-rekan diseret ke kantor karena telah mencoba menyuap petugas. (saat gaji polisi sudah cukup untuk mengkuliahi semua anaknya menjadi dokter, saat itulah semuanya akan bertindak yang sama, menolak suapan dari pelanggar.)

4. (khusus pelajar & mahasiswa) Belajar berani menerima resiko.. Berani melanggar, juga harus berani menerima Tilang. Jangan hanya berani bergaya melanggar, tapi saat ditilang, langsung sibuk nelpon bapak-ibunya… Jangan merepotkan ortu-lah… Malu.. Udah gede.. :-)

5. Ketahui dan laksanakanlah peraturan lalu lintas yang berlaku di jalan. Jangan tertib karena takut ditilang, tapi tertiblah untuk keselamatan jiwa rekan-rekan selama berkendara.

http://pelayanmasyarakat.blogspot.com

Nah, dari situ, bertambah lagi pengetahuan saya, tentang TILANG ini. Bahwa ternyata, titip denda sama polisi itu diperbolehkan, dan legal. Karena opsi itulah, akhirnya timbul praktek pemalakan oleh oknum polisi. Saya pribadi, lebih memilih alternatif II, yang juga langkah si sopir taksi dalam email di atas. TAPI, nampaknya lumanyun juga kalo denda ga punya SIM aja itu 1 juta seperti yang disebut sama blog-nya pak polisi di atas. TAPI, apa benar memang besarnya denda segede itu?

Menurut UU N0. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu lintas Dan Angkutan Jalan, begini bunyinya :

Setiap Pengemudi (Pengemudi Semua Jenis Kendaraan Bermotor)

a) Tidak membawa SIM Tidak dapat menunjukkan Surat Ijin Mengemudi yang Sah Pasal 288 ayat (2) jo Pasal 106 ayat (5) hrf b Rp. 250.000.

b) Tidak memiliki SIM Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, tidak memiliki Surat Izin Mengemudi Pasal 281 jo Pasal 77 ayat (1) Rp. 1.000.000.

**bisa disimak di http://www.tmcmetro.com/news/2011/04/denda-tilang-berdasarkan-uu-llaj-no.-22-tahun-2009

Jadi, memang bener denda maksimal ga punya SIM itu 1jeti. Manyun ga tuh?? TAPI, gimana kalo itu terjadi di daerah tempat tinggal saya, Bantul, ini yang umr-nya aja cuma 800.00an. Masa iya, gaji sebulan cuma buat bayar denda tilang?? Kan kasihan… Dan TAPI juga (lagi-lagi TAPI), dalam kasus pak sopir taksi itu di atas, denda karena plat modifikasi itu seharusnya dikenakan denda 500ribu. Kenapa pak sopir cuma kena 30.600?? Dan konon kabarnya di daerah Bantul, tempat tinggal saya, besaran denda tilang karena tidak mempunyai SIM adalah 30.000. Mengapa oh mengapa???

Berikut hasil guglang-gugling saya :

Meskipun pada ketentuan UU no. 22 tersebut ada ancaman denda maksimalnya, biasanya karena otonomi daerah, di tiap daerah antara Pengadilan, Kejaksaan dan kepolisian duduk bersama membuat tabel denda pelanggaran lalu lintas untuk tiap jenis pelanggaran, dari yang ringan seperti pelanggaran rambu sampe yang berat, jadi tiap daerah bisa bervariasi dendanya. Jadi kalo ga punya SIM di daerah Bantul kena denda 30ribu, lain halnya di daerah lain.

Nah, itulah serba-serbi tilang. Sekian. Matur nuwun. :)

Di mata orang-orang mungkin aku bukan apa-apa dibanding seorang wanita karir. Tapi tak ada yang membuatku bangga jika suatu saat kelak orang-orang memuji prestasi anak-anakku, aku membentuk mereka dengan tanganku sendiri.

—Rum Prihatin

Kisah Sedih Seorang Jumper

Akhir-akhir ini, gw lagi seneng maen foursquare. Awal join foursquare cuma pengen aplikasi yang bisa announce tempat “dimana gw sekarang”. Terus abis itu tertarik sama badge-badgenya. Gw dapet awalnya dari “aktifitas normal”, lama-lama gw mule check in di tempat yang “mengada-ada” yang udah dibikin sama orang lain sebelumnya (gw yakin dia juga pemburu badge). Setelah ngerasa agak-agak susah karna ga banyak beragam venue di kota kecil ini, dan gw juga orang yang ga mobile-mobile banget disini, jadilah gw seorang “jumper”.

Apakah “jumper” itu? Jumper itu biasanya menghalalkan segala cara demi mendapatkan sebuah badge. Saking getolnya berburu badge, aktifitas check in-nya pun jadi sembarangan. Kenapa dikatakan sembarangan? Karena ga mikir antara sinkronisasi jarak tempuh dengan jeda waktu yang dibutuhkan. Semisal lo check in di Jogja, 10 menit kemudian gw lantas udah ada di Jakarta. Kalo lo salah satu lulusan Hogwards itu mungkin aja terjadi. Nyatanya author hidup kita bukan JK Rowling :p.

Kabarnya, Jumper sangatlah diharamkan oleh komunitas pengguna atau pemilik akun foursquare se-Indonesia. Bahkan pihak foursquare sendiri udah mengeluarkan policy untuk nge-bann para jumper. Dan gw salah satu orang yang sempet kena rapid karena ketauan jumper x_x. Awalnya gw ga tau trik jadi seorang jumper baik dan benar, alhasil gw check in di new york (jaoh bet) dan kemudian berapa menit kemudian balik ke rumah. Dudul banget… Gara-gara kena rapid ini, gw ga bisa check in via app foursquare di bb, kalopun maksa ga dapet badge dan poin sama sekali. Paling mentok gw bisa check in di mobile web, itupun terdampar di sekitaran New York. Jadi gelandangan virtual nih gw..

Konon kabarnya sih buat nge-relieve rapid ini bisa delete history kita, tapi harus di depan pc. Dan sampe detik ini, gw belom berhadapan dengan seekor pc pun. *poor me*
Sedihnya.. *mewek di bangku taman*

Makna Sebuah Titipan

Seringkali aku berkata,ketika orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipan Nya,
Bahwa rumahku hanya titipan Nya,
Bahwa hartaku hanya titipan Nya,
Bahwa putraku hanya titipan Nya,
Tetapi,mengapa aku tak pernah bertanya,mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru berat,ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian,kusebut itu sebagai petaka,

Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah,
Lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit,kutolak kemiskinan
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika

Aku rajin beribadah,maka selayaknyalah derita menjauh dariku,dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu,bencana dan keberuntungan sama saja”

~WS Rendra~